Mengapa Puasa Ramadan Terus Maju Setiap Tahun dalam Kalender Masehi?

Kategori : Haji, Umroh & Wisata, Edukasi & Sejarah, Ditulis pada : 04 Januari 2026, 09:00:00

Setiap tahun, umat Islam mendapati satu fakta yang sama: bulan Ramadan selalu datang lebih awal jika dilihat dari kalender Masehi. Jika tahun ini puasa dimulai awal Maret, tahun depan bisa jatuh di akhir Februari, dan beberapa dekade lalu bahkan pernah berlangsung di puncak musim panas. Fenomena ini kerap memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat: mengapa puasa Ramadan terus maju setiap tahun dalam kalender Masehi? Jawabannya terletak pada perbedaan sistem penanggalan yang digunakan oleh kalender Islam dan kalender Masehi.

Puasa Ramadan selalu maju setiap tahun dalam kalender Masehi. Artikel ini mengulas penyebabnya berdasarkan perbedaan kalender Hijriyah dan Masehi serta hikmah di balik pergeseran bulan Ramad

Kalender Hijriyah Berbasis Bulan

Kalender Islam atau kalender Hijriyah disusun berdasarkan pergerakan Bulan mengelilingi Bumi. Satu bulan Hijriyah dimulai sejak terbitnya hilal (bulan sabit pertama) setelah terjadinya ijtimak atau bulan baru. Karena mengikuti siklus bulan, panjang satu bulan Hijriyah adalah 29 atau 30 hari. Dalam satu tahun Hijriyah terdapat 12 bulan dengan total hari sekitar 354–355 hari. Ini berarti kalender Hijriyah lebih pendek sekitar 10–11 hari dibanding kalender Masehi.

Kalender Masehi Berbasis Matahari

Sebaliknya, kalender Masehi (Gregorian) menggunakan sistem perputaran Bumi mengelilingi Matahari. Satu tahun Masehi memiliki rata-rata 365,24 hari, dengan penyesuaian tahun kabisat setiap empat tahun. Perbedaan panjang tahun inilah yang menjadi kunci utama mengapa Ramadan terus “maju” setiap tahun jika dilihat dari kalender Masehi.

Bergeser 10–11 Hari Setiap Tahun

Karena tahun Hijriyah lebih pendek, maka tanggal 1 Ramadan akan maju sekitar 10–11 hari lebih awal setiap tahun Masehi. Pergeseran ini bersifat konsisten dan berulang, sehingga dalam rentang waktu sekitar 33 tahun, Ramadan akan kembali ke musim yang sama. Inilah sebabnya umat Islam pernah menjalani puasa Ramadan di musim dingin dengan durasi siang yang pendek, dan di waktu lain harus berpuasa di musim panas dengan siang hari yang lebih panjang.

Perbedaan Penetapan Awal Ramadan

Selain faktor sistem kalender, perbedaan awal puasa Ramadan juga dipengaruhi oleh metode penentuan awal bulan, yakni rukyatul hilal (pengamatan langsung) dan hisab (perhitungan astronomi). Setiap negara atau organisasi Islam dapat memiliki kriteria yang berbeda dalam menetapkan awal Ramadan, sehingga tidak jarang umat Islam memulai puasa pada hari yang berbeda. Namun perbedaan ini tidak mengubah hakikat utama bahwa Ramadan tetap mengikuti kalender Hijriyah, bukan kalender Masehi.

Hikmah di Balik Pergeseran Ramadan

Para ulama memandang pergeseran Ramadan sebagai bentuk keadilan dan hikmah syariat. Dengan berpindahnya Ramadan di berbagai musim, umat Islam di seluruh dunia merasakan kondisi ibadah yang beragam—kadang ringan, kadang berat—namun tetap bernilai sama di sisi Allah SWT. Puasa Ramadan pun menjadi ibadah yang tidak terikat pada satu musim tertentu, melainkan hadir menyapa umat Islam di setiap fase kehidupan dan waktu.

Penutup

Puasa Ramadan yang terus maju setiap tahun dalam kalender Masehi bukanlah keanehan, melainkan konsekuensi logis dari sistem kalender Hijriyah yang berbasis lunar. Inilah warisan penanggalan Islam yang telah digunakan sejak zaman Rasulullah SAW dan tetap relevan hingga kini. Memahami hal ini bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa ibadah puasa adalah perjalanan spiritual yang melampaui batas waktu, musim, dan geografis.

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id