Dialog Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Musa ‘Alaihissalam dalam Peristiwa Isra’ Mi‘raj: Jejak Rahmat dan Hikmah Syariat

Kategori : Edukasi & Sejarah, Ditulis pada : 18 Januari 2026, 09:00:31

dialog Nabi Muhammad dan Nabi Musa, Isra Mi’raj, peristiwa Isra Mi’raj, kewajiban salat lima waktu, kisah Isra Mi’raj Nabi Muhammad, hadits Isra Mi’raj, hikmah Isra Mi’raj, Nabi Musa dalam I

Peristiwa Isra’ Mi‘raj merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah kenabian Nabi Muhammad ﷺ. Ia bukan sekadar perjalanan agung dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan kemudian menembus langit hingga Sidratul Muntaha, tetapi juga menjadi momentum penetapan syariat terpenting dalam Islam: salat lima waktu. Di antara rangkaian peristiwa tersebut, terdapat dialog yang sangat sarat makna antara Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Musa ‘Alaihissalam dialog lintas zaman yang memperlihatkan kasih sayang para nabi terhadap umat manusia.

Pertemuan Dua Nabi Besar

Dalam riwayat hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah ﷺ menceritakan bahwa saat Mi‘raj beliau bertemu para nabi di setiap lapisan langit. Di langit keenam, beliau bertemu Nabi Musa ‘Alaihissalam. Pertemuan itu bukan sekadar sapaan, tetapi disertai dialog yang penuh empati. Nabi Musa menangis setelah Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanan. Ketika ditanya alasannya, Nabi Musa menjawab bahwa ia menangis karena ada seorang nabi yang diutus setelahnya, namun umatnya kelak lebih banyak masuk surga dibanding umatnya.

Tangisan Nabi Musa bukanlah bentuk kedengkian, melainkan ekspresi cinta dan kepedulian seorang nabi terhadap umatnya. Ini menegaskan bahwa para nabi diikat oleh satu misi ilahi: membimbing manusia menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Awal Kewajiban Salat

Puncak dialog antara Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Musa ‘Alaihissalam terjadi setelah Allah SWT mewajibkan 50 kali salat dalam sehari semalam kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ turun dan bertemu Nabi Musa, beliau disarankan untuk kembali menghadap Allah dan memohon keringanan. Nabi Musa berkata, berdasarkan pengalamannya membimbing Bani Israil, umat manusia tidak akan mampu menunaikan kewajiban seberat itu.

Rasulullah ﷺ pun kembali menghadap Allah SWT, dan kewajiban tersebut dikurangi. Proses ini terjadi berulang kali—Rasulullah ﷺ naik menghadap Allah, lalu kembali bertemu Nabi Musa yang terus menganjurkan agar memohon keringanan—hingga akhirnya ditetapkanlah salat lima waktu. Meski jumlahnya berkurang, Allah menegaskan bahwa pahalanya tetap setara dengan lima puluh salat.

Dialog ini menjadi bukti nyata rahmat Allah yang luas serta perhatian para nabi terhadap kemampuan umatnya. Salat lima waktu yang kita kenal hari ini lahir dari rangkaian dialog langit yang sarat kasih sayang dan kebijaksanaan.

Dimensi Hikmah dan Makna

Para ulama tafsir dan syarah hadits, seperti Ibnu Katsir dan Imam an-Nawawi, menekankan bahwa dialog Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Musa ‘Alaihissalam mengandung banyak hikmah. Pertama, ia menunjukkan kedudukan istimewa Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah, karena beliau diberi kesempatan berulang kali untuk menghadap dan bermunajat langsung demi umatnya.

Kedua, dialog ini menegaskan bahwa syariat Islam dibangun di atas prinsip kemudahan, bukan kesulitan. Allah SWT berfirman bahwa Dia tidak menghendaki kesukaran bagi hamba-Nya. Salat lima waktu adalah kewajiban, tetapi juga karunia—ringkas dalam jumlah, besar dalam nilai dan pahala.

Ketiga, peristiwa ini memperlihatkan kesinambungan risalah para nabi. Nabi Musa ‘Alaihissalam, meski berasal dari umat terdahulu, tetap memiliki kepedulian mendalam terhadap umat Nabi Muhammad ﷺ. Ini menjadi pelajaran penting tentang ukhuwah kenabian dan kesatuan misi tauhid sepanjang sejarah.

Relevansi bagi Umat Islam Masa Kini

Bagi umat Islam hari ini, dialog Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Musa ‘Alaihissalam saat Isra’ Mi‘raj bukan sekadar kisah historis, melainkan pengingat spiritual. Salat lima waktu bukan beban, tetapi amanah penuh cinta yang diwariskan melalui proses yang panjang dan penuh doa. Setiap kali seorang Muslim menunaikan salat, sejatinya ia sedang menapaki jejak dialog suci tersebut.

Lebih dari itu, kisah ini mengajarkan pentingnya empati dalam kepemimpinan dan dakwah. Nabi Musa memberi nasihat berdasarkan pengalaman, Nabi Muhammad ﷺ menerimanya dengan lapang dada, dan Allah SWT menurunkan keputusan terbaik bagi umat. Inilah teladan kolaborasi, kerendahan hati, dan kasih sayang yang patut diteladani.

Penutup

Dialog Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Musa ‘Alaihissalam dalam peristiwa Isra’ Mi‘raj adalah potret indah dari rahmat Allah, kepedulian para nabi, dan kemuliaan syariat Islam. Dari dialog inilah lahir salat lima waktu—ibadah yang menjadi tiang agama dan penghubung langsung antara hamba dan Tuhannya. Memahami kisah ini secara mendalam akan menumbuhkan rasa syukur, cinta, dan kesadaran bahwa setiap sujud kita hari ini adalah buah dari dialog agung di langit, yang diwariskan demi kebaikan umat hingga akhir zaman.

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id