Cepat, Luas, dan Tanpa Tapi: Membedah Kedermawanan Rasulullah ﷺ yang Bagaikan ‘Angin Berhembus’

Kategori : Kisah, Ditulis pada : 10 Februari 2026, 09:00:33

250210.jpg

Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern yang menuntut segalanya serba cepat, kita sering kali lambat dalam satu hal: Berbagi. Kita kerap terjebak dalam kalkulasi matematika yang rumit sebelum mengeluarkan sebagian harta. "Nanti uang belanja kurang," atau "Tunggu gajian bulan depan," adalah rem yang sering kita injak.

Namun, 14 abad silam, ada standar kedermawanan yang melampaui logika manusia biasa. Standar itu diletakkan oleh manusia paling mulia, Muhammad ﷺ.

Sebuah metafora indah terekam dalam Shahih Bukhari dan Muslim, diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas r.a. Ia tidak menggambarkan sedekah Nabi dengan kata "banyak" atau "sering", melainkan dengan sebuah fenomena alam: "Bagaikan angin yang berhembus (ar-riih al-mursalah)."

Apa rahasia di balik metafora ini? Mengapa angin? Berdasarkan penelusuran dalil dan syarah para ulama, kita menemukan tiga dimensi emas dari kedermawanan Sang Nabi: Kecepatan, Keluasan, dan Keikhlasan.


1. Kecepatan: Melawan Penundaan

Angin tidak pernah 'berpikir' untuk bergerak; ia hanya bergerak. Sifat ar-riih (angin) adalah cepat dan responsif.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa analogi angin menunjukkan betapa Nabi ﷺ memberi tanpa menunda-nunda. Beliau tidak membiarkan setan membisikkan keraguan atau ketakutan akan kemiskinan.

Sebuah peristiwa di Madinah menjadi bukti paling otentik. Dalam hadits riwayat Bukhari, Uqbah bin Al-Harits menceritakan keterkejutan para sahabat usai shalat Ashar. Begitu salam, Nabi ﷺ tidak berdzikir seperti biasa, melainkan langsung berdiri, melangkahi pundak jamaah dengan tergesa-gesa menuju kamar istrinya.

Para sahabat cemas, mengira ada kejadian genting. Saat kembali, Nabi ﷺ yang melihat kebingungan mereka berkata:

"Aku teringat sepotong emas yang ada padaku. Aku tidak suka ia menahanku (dari mengingat Allah), maka aku perintahkan untuk dibagikan."

Bayangkan, bahkan di tengah kekhusyukan pasca-shalat, ingatan akan harta yang "mengendap" membuat beliau gelisah. Bagi Nabi, menahan harta yang haknya harus dikeluarkan adalah beban spiritual. Kedermawanan beliau adalah tentang "sekarang", bukan "nanti".


2. Keluasan: Memberi Tanpa Logika Matematika

Dimensi kedua dari "angin yang berhembus" adalah jangkauannya. Angin menerpa siapa saja—pejabat maupun rakyat jelata, gedung tinggi maupun gubuk reot. Kedermawanan Nabi ﷺ bersifat inklusif dan masif.

Dalam kacamata jurnalistik, apa yang dilakukan Nabi ﷺ bisa disebut sebagai disruptive charity (sedekah yang mendobrak kebiasaan). Anas bin Malik r.a. merekam momen yang sulit diterima akal sehat manusia modern (HR. Muslim).

Suatu hari, seorang laki-laki meminta sesuatu kepada Nabi. Tanpa ragu, beliau memberikan kambing yang memenuhi lembah di antara dua gunung. Bukan satu ekor, bukan dua ekor, tapi satu lembah!

Laki-laki itu pulang ke kaumnya dengan gemetar dan berseru: "Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian! Sesungguhnya Muhammad memberi pemberian seperti pemberian orang yang tidak takut miskin."

Di sini kita belajar bahwa kedermawanan Nabi bukan sekadar filantropi, melainkan dakwah. Beliau membuktikan bahwa janji Allah tentang rezeki (QS. Saba': 39) adalah kepastian mutlak, sehingga beliau memberi dengan mentalitas "langit", bukan mentalitas "dompet".


3. Keikhlasan: Puncak Tertinggi Itsar

Angin membawa kesejukan (rahmat) tanpa meminta balasan dari pohon yang digoyangkannya.

Banyak filantropis dunia memberi dari kelebihan harta mereka (surplus). Namun, riset sejarah menunjukkan Rasulullah ﷺ seringkali memberi dari apa yang beliau sendiri butuhkan. Inilah level tertinggi kedermawanan yang dalam Islam disebut Itsar (mendahulukan orang lain meski diri sendiri butuh), sebagaimana dipuji Allah dalam QS. Al-Hashr ayat 9.

Ironi yang menggetarkan hati terjadi di akhir hayat beliau. Manusia yang pernah bersedekah satu lembah kambing itu, wafat dalam keadaan baju besinya sedang digadaikan kepada seorang Yahudi hanya untuk mendapatkan gandum bagi makan keluarganya.

Ini adalah bukti pamungkas bahwa kedermawanan beliau "Bagaikan Angin Berhembus" sampai hembusan napas terakhir. Harta dunia hanya mampir di tangan beliau untuk disalurkan, tidak pernah mengendap di hati, bahkan tidak tersisa saat beliau pergi.


Refleksi Kita Hari Ini

Sebagai umatnya, mungkin kita belum sanggup memberi satu lembah ternak. Namun, kita bisa meniru sifat "Angin" tersebut dalam skala kita:

  1. Jadilah Cepat: Saat terbesit niat sedekah, sisihkan saat itu juga. Jangan tunggu nanti.

  2. Jadilah Luas: Jangan pilih-pilih dalam membantu. Angin menyapa siapa saja.

  3. Jadilah Ikhlas: Tidak perlu mengharap ucapan terima kasih, apalagi pujian di media sosial.

Ramadhan ataupun di luar Ramadhan, mari kita hidupkan kembali sunnah yang mulai terlupakan ini. Biarkan kedermawanan kita berhembus cepat, membawa kesejukan bagi sekitar, tanpa tertahan oleh dinding ego dan perhitungan duniawi.


Referensi: HR. Bukhari no. 6, 1430, 6034; HR. Muslim no. 2308, 2312; Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari.

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id