Kisah Kedermawanan Rasulullah ﷺ: “Seperti Angin yang Berhembus Kencang”
Rasulullah Muhammad ﷺ dikenal sebagai teladan utama dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam hal kedermawanan. Beliau bukan sekadar memberi, tetapi memberi dengan hati yang lapang, cepat, dan tanpa batas. Salah satu gambaran paling indah tentang sifat ini terekam dalam sebuah hadits sahih yang masyhur, ketika kedermawanan Rasulullah ﷺ diibaratkan seperti angin yang berhembus kencang.
Perumpamaan ini bukan sekadar ungkapan puitis, melainkan mengandung makna mendalam tentang bagaimana Islam memandang memberi dan berbagi.
Rasulullah ﷺ: Manusia Paling Dermawan
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan:
“Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril ‘alaihis salam menemuinya. Jibril menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan untuk mengajarkan Al-Qur’an. Sungguh, Rasulullah ﷺ lebih dermawan daripada angin yang berhembus.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan dua fakta penting. Pertama, kedermawanan Rasulullah ﷺ adalah sifat yang melekat sepanjang hidupnya. Kedua, sifat tersebut semakin memuncak pada bulan Ramadhan, terutama ketika beliau berinteraksi langsung dengan Al-Qur’an.
Makna “Seperti Angin yang Berhembus”
Para ulama menjelaskan bahwa perumpamaan “angin yang berhembus” memiliki makna yang sangat dalam. Angin tidak memilih ke mana ia akan berhembus; ia menyentuh semua yang dilaluinya. Jika angin tersebut membawa hujan, maka manfaatnya dirasakan oleh seluruh makhluk—tanaman, hewan, dan manusia.
Demikian pula kedermawanan Rasulullah ﷺ:
-
Cepat: Beliau tidak menunda kebaikan ketika ada kesempatan memberi.
-
Luas: Kebaikannya menjangkau siapa saja—orang miskin, tamu, sahabat, bahkan orang yang baru mengenal Islam.
-
Tanpa pamrih: Seperti angin yang tidak meminta balasan, Rasulullah ﷺ memberi tanpa mengharap pujian.
Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan kelimpahan manfaat dan kecepatan memberi, bukan sekadar banyaknya harta yang diberikan.
Kedermawanan dan Al-Qur’an
Menariknya, hadits ini secara langsung mengaitkan kedermawanan Rasulullah ﷺ dengan interaksi beliau bersama Al-Qur’an. Setiap kali Jibril mengajarkan Al-Qur’an kepada beliau di bulan Ramadhan, semakin bertambah pula kedermawanannya.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir seratus biji.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Al-Qur’an tidak hanya mendorong umat Islam untuk bersedekah, tetapi juga menanamkan keyakinan bahwa setiap pemberian akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah.
Memberi Meski dalam Keterbatasan
Kedermawanan sejati bukanlah memberi dari kelebihan semata. Al-Qur’an memuji orang-orang yang tetap memberi meskipun mereka sendiri membutuhkan:
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan, (seraya berkata): ‘Sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah.’”
(QS. Al-Insan: 8–9)
Ayat ini mencerminkan ruh kedermawanan Rasulullah ﷺ: memberi dengan keikhlasan, bukan demi pengakuan manusia.
Pelajaran untuk Umat Islam Hari Ini
Kisah kedermawanan Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa sedekah bukan sekadar angka atau nominal. Ia adalah sikap hidup. Seorang Muslim diajak untuk:
-
Cepat dalam berbuat baik, tidak menunda saat mampu memberi.
-
Luas dalam manfaat, memastikan kebaikan dirasakan banyak orang.
-
Ikhlas, menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama.
-
Menjadikan Ramadhan sebagai momentum, karena bulan ini adalah waktu terbaik untuk melatih hati agar lebih dermawan.
Penutup
Rasulullah ﷺ adalah teladan sempurna dalam kedermawanan—memberi dengan kecepatan angin dan manfaat seluas hujan yang dibawanya. Di tengah dunia yang sering diwarnai kekhawatiran akan kekurangan, Islam justru mengajarkan bahwa memberi adalah jalan menuju keberkahan.
Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk menjadikan kedermawanan sebagai karakter hidup, bukan hanya kebiasaan musiman. Karena sejatinya, harta yang paling berharga bukanlah yang disimpan, tetapi yang mengalir dan memberi manfaat bagi sesama.