Peristiwa Pemindahan Arah Kiblat: Sejarah Besar di Bulan Sya’ban

Kategori : Khazanah, Ditulis pada : 04 Februari 2026, 09:00:37

Peristiwa pemindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah terjadi pada bulan Sya’ban tahun ke-2 Hijriyah. Simak sejarah, dalil Al-Qur’an, lokasi Masjid Qiblatain, serta hikmah besar di b

Bulan Sya’ban menyimpan banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam. Salah satu yang paling monumental adalah pemindahan arah kiblat umat Islam dari Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsa di Yerusalem) menuju Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah. Peristiwa ini bukan sekadar perubahan arah shalat, melainkan titik balik penting dalam pembentukan identitas umat Islam dan peneguhan ketaatan mutlak kepada wahyu Allah SWT.

Latar Belakang Sejarah Kiblat Awal Umat Islam

Pada masa awal Islam, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat melaksanakan shalat dengan menghadap Baitul Maqdis. Hal ini berlangsung sejak periode Makkah hingga awal masa hijrah di Madinah. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW memiliki keinginan kuat agar kiblat diarahkan ke Ka’bah, bangunan suci yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan menjadi simbol tauhid sejak zaman dahulu.

Keinginan tersebut bukan dorongan pribadi, melainkan kerinduan spiritual dan bagian dari kesinambungan risalah Ibrahimiyyah. Rasulullah SAW kerap menengadahkan wajah ke langit, menanti wahyu dari Allah SWT.

Turunnya Perintah Pemindahan Kiblat

Perintah pemindahan arah kiblat turun pada tahun ke-2 Hijriyah. Banyak ulama dan sumber sejarah menyebut peristiwa ini terjadi pada bulan Sya’ban, bahkan sering dikaitkan dengan pertengahan Sya’ban. Meski terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal pastinya, mayoritas ulama sepakat bahwa peristiwa ini terjadi sebelum bulan Ramadan pada tahun tersebut.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram…”
(QS. Al-Baqarah: 144)

Ayat ini menjadi dasar utama pemindahan arah kiblat dan menandai perubahan besar dalam praktik ibadah umat Islam.

Detik-Detik Bersejarah di Masjid Qiblatain

Menurut riwayat yang masyhur, peristiwa pemindahan kiblat terjadi ketika Rasulullah SAW sedang melaksanakan shalat berjamaah di sebuah masjid di Madinah. Saat wahyu turun, beliau langsung berpaling dari arah Baitul Maqdis menuju Ka’bah, dan para sahabat pun mengikuti beliau dalam shalat yang sama.

Masjid tersebut kini dikenal dengan nama Masjid Qiblatain (Masjid Dua Kiblat), karena menjadi saksi shalat yang dilakukan dengan dua arah kiblat dalam satu waktu. Hingga hari ini, Masjid Qiblatain menjadi salah satu situs sejarah penting yang sering diziarahi jamaah haji dan umrah.

Makna dan Hikmah Pemindahan Kiblat

Peristiwa pemindahan arah kiblat mengandung banyak hikmah mendalam, di antaranya:

  1. Ujian ketaatan umat
    Perubahan ini menguji sejauh mana keimanan kaum Muslimin dalam menerima perintah Allah, meskipun terjadi secara tiba-tiba dan berbeda dari kebiasaan sebelumnya.

  2. Peneguhan identitas umat Islam
    Pemindahan kiblat menandai kemandirian syariat Islam dan membedakannya dari praktik ibadah umat sebelumnya, khususnya komunitas Yahudi di Madinah.

  3. Penguatan posisi Ka’bah
    Ka’bah ditegaskan sebagai pusat ibadah dan simbol persatuan umat Islam di seluruh dunia, tanpa memandang ras, bangsa, dan wilayah.

  4. Kesinambungan risalah tauhid
    Menghadap Ka’bah menghubungkan umat Islam dengan jejak Nabi Ibrahim AS sebagai bapak para nabi dan pelopor tauhid.

Sya’ban dan Nilai Sejarahnya bagi Umat Islam

Dikaitkannya peristiwa pemindahan kiblat dengan bulan Sya’ban memberikan makna tersendiri. Sya’ban menjadi bulan persiapan spiritual menuju Ramadan, dan peristiwa besar ini mengajarkan bahwa perubahan menuju ketaatan yang lebih sempurna sering kali datang sebelum fase peningkatan ibadah.

Karena itu, Sya’ban bukan sekadar bulan “antara”, melainkan bulan penuh sejarah, refleksi, dan penguatan iman.

Penutup

Peristiwa pemindahan arah kiblat adalah salah satu tonggak terpenting dalam sejarah Islam. Ia mengajarkan tentang ketaatan tanpa syarat, kesatuan umat, dan kepatuhan mutlak kepada wahyu Allah SWT. Mengingat kembali peristiwa besar ini, khususnya di bulan Sya’ban, menjadi sarana bagi umat Islam untuk memperkuat iman dan menyiapkan diri menyambut bulan Ramadan dengan hati yang lurus dan penuh kepasrahan.

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id