Tanda-Tanda Lailatul Qadar di Tanah Suci: Mitos vs Dalil Shahih

Kategori : Doa & Hadist, Ditulis pada : 28 Februari 2026, 09:00:23

Lailatul Qadar — malam penuh berkah yang disebutkan Allah SWT dalam Al-Qur’an sebagai malam yang “lebih baik dari seribu bulan” — selalu menjadi momen pencarian intensif setiap Ramadan, khususnya di Tanah Suci Makkah dan Madinah. Bersamaan dengan harapan umat, beredar pula banyak cerita dan “tanda” yang konon menunjukkan bahwa malam itu telah datang. Artikel ini merangkum dalil-dalil shahih dan memisahkan fakta dari mitos, agar kita fokus pada esensi: memperbanyak ibadah dan berharap ridha Allah.


Pengantar singkat: apa kata Al-Qur’an dan Hadis?

Allah SWT menegaskan keistimewaan malam ini dalam surat Al-Qadr: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar… Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 1–5).
Rasulullah ﷺ memerintahkan umat untuk mencari malam itu pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan dan menekankan agar fokus pada ibadah di malam-malam ganjilnya (HR. Bukhari & Muslim).


Tanda-tanda yang memiliki dasar dalil (apa yang shahih / dapat dipercaya)

1. Petunjuk waktu: sepuluh malam terakhir, terutama malam ganjil

Ini adalah petunjuk praktik Nabi ﷺ: mencari Lailatul Qadar dalam sepuluh malam terakhir Ramadan dan memperbanyak amal di malam-malam ganjil (mis. 21, 23, 25, 27, 29). Ini bukan tanda alam, tapi pedoman waktu untuk intensitas ibadah. (HR. Bukhari & Muslim)

2. Malam yang tenang dan penuh kedamaian

Beberapa riwayat menggambarkan suasana Lailatul Qadar sebagai malam yang tenteram; suasana hati dan atmosfer terasa ringan. Gambaran ini membantu kita memahami bahwa malam tersebut istimewa, tetapi bukan tanda fisik yang bisa dipastikan sebelum atau sesudahnya.

3. Matahari terbit tanpa sinar menyilaukan (indikator setelahnya)

Ada riwayat yang menyebut pada pagi setelah Lailatul Qadar, matahari tampak terbit “tanpa sinar yang menyilaukan.” Hadis semacam ini kerap dikutip sebagai tanda yang akan diketahui setelah malam berlalu (HR. Muslim). Artinya: ini bukan cara menentukan malam sebelumnya — melainkan petunjuk yang dilaporkan terjadi pada pagi berikutnya menurut beberapa riwayat.

Catatan penting: tanda-tanda di atas bukanlah petunjuk pasti yang dapat kita gunakan untuk “menandai” malam tersebut sebelum/selama malam itu berlangsung. Banyak ulama menekankan bahwa Lailatul Qadar disembunyikan agar umat terus berusaha.


Mitos yang sering beredar (tanpa dasar shahih)

Di masyarakat dan media sosial sering beredar berbagai kisah fenomenal tentang Lailatul Qadar. Berikut beberapa narasi yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur’an atau hadis shahih:

  • Pohon-pohon bersujud atau tumbuhan bergerak sendiri.

  • Semua binatang menjadi diam (anjing tak menggonggong, burung hening).

  • Perubahan rasa makanan dari asin menjadi manis.

  • Fenomena meteor, cahaya aneh, atau gempa khusus sebagai penanda.

  • Kejadian alam ekstrim yang dianggap spesial pada malam itu.

Kisah-kisah ini biasanya bersifat folklor, anekdot lokal, atau hasil tafsir bebas dari pengalaman individu. Ulama memperingatkan agar tidak mempercayai atau menyebarkan klaim-klaim tanpa sanad dan verifikasi, karena bisa mengalihkan perhatian dari tujuan utama malam tersebut: mendekatkan diri kepada Allah.


Mengapa fokus pada dalil lebih penting daripada mencari tanda fisik?

  1. Praktik Nabi ﷺ: Beliau mencontohkan usaha maksimal dalam ibadah (itikaf, shalat malam, dzikir, membaca Al-Qur’an) pada sepuluh malam terakhir, bukan mencari fenomena alam.

  2. Kebersihan akidah: Mengandalkan mitos tanpa bukti bisa menyesatkan keyakinan dan praktik keagamaan.

  3. Tujuan Lailatul Qadar: Malam ini adalah kesempatan pengampunan, peningkatan ibadah, dan memperbanyak doa — bukan sekadar fenomena untuk dikoleksi sebagai pengalaman.


Praktis: apa yang sebaiknya kita lakukan di sepuluh malam terakhir?

  • Perbanyak shalat malam (tahajud/qiyam), membaca Al-Qur’an, dan istighfar.

  • Itikaf bila mampu — meniru sunnah Nabi ﷺ di sepuluh malam terakhir.

  • Fokus pada doa memohon ampunan, petunjuk, dan kebaikan dunia-akhirat.

  • Manfaatkan waktu untuk memperbaiki hubungan sosial dan membayar hutang agama (zakat, sedekah).

  • Hindari terjebak pada cerita-cerita sensasional yang tidak berdasar; ajak jamaah untuk fokus pada ibadah yang nyata dan bermanfaat.


Penutup: harapan dan kehati-hatian

Lailatul Qadar adalah rahmat besar; Allah menyembunyikan kebenarannya agar kita terus berusaha. Daripada menunggu tanda-tanda mistis, yang paling tepat adalah mengikuti petunjuk Nabi ﷺ: memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir, menjaga khusyuk, dan memperbarui niat. Semoga Allah menuntun kita untuk mendapat berkah malam itu — entah kita mengetahuinya maupun tidak — dan menerima semua amal saleh kita. Aamiin.

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id